Sore itu ketika saya berjalan santai, dengan langkah pasti dan perlahan serta menghirup segarnya udara pohon-pohon yang berada di tamankota. Di pinggiran, sudah banyak muda-mudi yang duduk dan berkelakar. Saya acuh saja walau berjalan sendirian *mencoba menghibur diri*. Di sisi lain saya melihat beberapa pedagang menjual dagangan mereka, ada tukang bakso, somay, soto, rawon dan bahkan para pedagang rokok panggul yang membawa termos dan rentengan kopi.

Tidak Pentingnya Merasa Penting

Sore itu begitu tenang, menurut Saya, udara yang yang menyegarkan, cahaya matahari yang menyilaukan mata, suara-suara burung yang menemani sorenya tamankota. Benar-benar moment yang pas untuk mendapatkan suasana ciamik dan mencari inspirasi. Anda tau, kadang Saya merasa ingin sekali menikmati suasana seperti ini, sendirian, tanpa ada orang yang berada disekitar. Seolah ingin menikmati nyaman dan tenangnya taman kota sendirian. Ini penting, membahagiakan dan membuat nyaman diri kita sendiri itu perlu.

Mengenai sebuah kebiasaan yang Saya rasa beberapa orang terlalu berlebihan karena mempunyai sifat menganggap dirinya penting. Atau tanpa sadar ketika mereka sedang berkumpul bersama sehingga mengacuhkan kepentingan orang lain. Hal yang satu ini mungkin tidak kita sadari, tapi secara halus merasa diri kita menjadi orang yang penting, adalah hal yang menjerumuskan.

Sering kali kita merasa diri kita yang harus diperhatikan, harus dihormati dan tidak boleh diacuhkan orang lain. Tanpa sadar kita menjadi meremehkan hak-hak seseorang dimana kita memposisikan diri kita lebih penting dari orang lain.

Saya jadi teringat mengenai kebiasaan-kebiasaan kota Surabaya ketika team sepak bola kebanggannya tampil. Persebaya, Klub kebanggaan kota yang membuat anak-anak mudanya “bangga”.  Bisa diartikan dari sisi mana saja. Anda tau, kekuatan komunitas atau jika beberapa orang sedang berkumpul di suatu tempat secara beramai-ramai dan mempunyai tujuan yang sama. Mendungkung klub sepak bola, misalnya. Mereka akan merasa diri mereka kuat karena sama-sama mempunyai misi yang sama, menjadi suporter.

Tapi kadang kita hanyut dalam uphoria serunya permainan bola. Kita berteriak, menyanyikan yel-yel yang diarahkan kordinator, berjoget, lomat-lompat. Dalam suasana seperti ini kita seolah acuh dengan orang sekitar. Menjadi kurang peka karena sudah masuk dalam suasaan senang. Dalam batasan ini wajar bagi Saya pribadi. Tapi, ketika team sepak bola yang kita dukung mengalami kekalahan. Akan lebih baik rasa kecewa itu tidak diluapkan secara berlebihan.

Ketika dijalanan, beberapa supporter yang disebut bonek –supporter sepak bola di Surabaya- atau supporter bola mana saja yang sudah fanatik terhadap team mereka, biasanya menjadi lepas kendali. Selama di jalan, mereka kadang bersifat berlebihan dengan berjalan beriringan. Sehingga menutup jalanan yang seharusnya lancar menjadi macet. Mereka merasa diri mereka dan teman-teman lain menjadi sangat penting ketika mengenakan atribut supporter. Membuat macet dengan suara knalpot yang bising dan memekakan telinga.

Dalam case supporter ini bisa kita ambil contoh bagaimana agar diri kita tidak merasa penting. Karna orang lain juga punya hak sama dengan kita. Banyak orang yang seketika berubah ketika merasa dirinya penting. Ketika seseorang merasa merasa keberadaanya penting bagi seseorang, makan akan ada konflik yang terjadi dalam dirinya. Sebagai contoh ketika sesorang sudah mulai merasa penting, maka ia akan selalu menuntut perhatian lebih di mata orang lain, dan ketika perhatian yang tidak diharapkan itu tidak didapatkan olehnya maka bisa saja membuatnya kecewa. Ini yang berusaha saya hindari.

Bagi Saya merasa diri saya penting, akan ada perasaan dimana Saya dibayang-bayangi rasa ketidaknyamanan. Merasa penting menjadi mudah sekali merasa diacuhkan dan itu sangat menyiksa diri sendiri. Bukan hanya itu, ketika seseorang sudah menetapkan label VIP bagi dirinya sendiri akan sangat rentan bagi dirinya untuk menjadi sombong dan mengenyampingkan segala sesuatu yang menjadi hak orang lain.

Dalam beberapa hal, merasa penting bisa menjerumuskan. Dalam hubungan baik pertemanan ataupun hubungan cinta seringkali terjadi pertengkaran hebat yang berakhir dengan keputusan berpisah karena salah satu atau diantara keduanya mulai “merasa penting“. Atau dalam masalah pekerjaan, ketika merasa diri kita menjadi penting, tanpa sadar kita meminta tolong bisa jadi terdengar seperti menyuruh. Sifat merasa penting ini kadang merepotkan.

Sekarang bagaimana jika keadaannya kita balik? , Bagaimana bila kita buat orang-orang yang ada disekitar kita itu menjadi seseorang yang VIP, tanpa harus kita menjadi “merasa penting” bagi orang lain atau hal lainnya karena tanpa “merasa penting” pun, sesungguhnya keberadaan kita dalam setiap kehidupan selalu menjadi penting dalam menjaga sebuah keseimbangan.

Jadi seberapa penting atau tidak pentingnya anda? Sesuaikan sendiri di lingkungan sekitar. Jangan berlebihan, karna tidak pentingnya merasa penting.

Incoming search terms:
  • merasa diacuhkan
  • diacuhkan orang lain
  • ketika kita merasa diacuhkan
  • nvftyh