Studio Bintang Surabaya adalah salah satu studio yang tertua di Indonesia. Studio tersebut terletak di jalan Hayam Wuruk No.86. Ia didirikan pada tahun 1949 atas inisiatif Fred Young dan ketiga famili the, yaitu The Teng Tjoen, The Teng Liong dan The Teng Hoi. Family the telah lama sebelum perang terkenal dalam dunia film Indonesia. Bapak dari ketiga bersaudara diatas telah mulai memasukkan film-film ke Indonesia dari Hongkong. Pada waktu itu Pres. Direktur dari Bintang Surabaya Film Coy adalah The Teng Tjoen
Boleh dikatakan semua bintang-bintang film laki-laki perempuan Indonesia juga terkenal kini memulai kariernya di Studio Bintang Surabaya. Seperti Dhalia, Netty Herawati, Astaman, Fifi young, Rd. Sukarno. Begitu juga beberapa sutradara old crack yang kita kenal di Indonesia sekarang berasal dari studio ini, atau masih bekerja pada studio ini, misalnya Fred Young, Rempo Urip, Arifin, M.Said, H. Asby, Ratna Asmara. dll.
Produksi Studio Bintang Surabaya
Pada waktu ini Studio Bintang Surabaya boleh dikatakan tidak lagi mempunyai pemain-pemain tetap seperti dahulu, kecuali 2 orang, yaitu Dian Angriani dan Joni Rantau. Yang pertama telah meneken kontrak dengan Studio Bintang Surabaya untuk 1 tahun lamanya dengan bayaran Rp. 500,- sebulan ditambah honorarium untuk tiap produksinya. Pemain-pemain lainnya hanya terikat atas dasar kontrak untuk tiap film saja, Daftar honorarium yang diberikan Studio Bintang Surabaya kepada pemain-pemainnya sesuai dengan peraturan pembayaran yang telah ditetapkan oleh PPFI, yaitu seorang leading-man atau atau leading-lady mendapatkan antara 10 hingga 15 ribu rupiah untuk tiap produksi. Kedua pemain Studio Bintang Surabaya yang merupakan warga tetap Studio Bintang Surabaya meneken kontraknya atas dasar pembikikan 5 film setahunnya.
Sejak berdirinya hingga sekarang Studio Bintang Surabaya telah terhitung rata-rata 10 produksi setiap tahunnya, Produksi yang terbesar selama berdirinya telah menghasilkan kira-kira 50 buah film dengan pencapaiannya ditahun 1953, yaitu dengan menghasilkan 15 buah film, suatu record produksi di Indonesia hingga waktu ini ditahun 1854 telah di capai jumlah produksi sebanyak 11 buah film, dan tahun 1955 ini tercapai jumlah 12 buah.
Studio Bintang Surabaya telah berhasil menciptakan film-film yang merupakan record dalam tiap tahunnya dilihat dari sudut penghasilan keuangan. Ditahun 1949 filmnya , “sehidup semati” telah merupakan film yang paling besar penghasilannya untuk film-film Indonesia. Ditahun 1950 filmnya “Djembatan Merah” adalah record b.o Untuk film-film Indonesia; ditahun 1951 Studio Bintang Surabaya mencapai record dengan produksinya “Dewa Dewi; Tahun 1952 “Kemala Dewa-dewi” dan “Lenggang Djakarta” dari Bintang Surabaya pula mencapai record yang tertinggi. Sedang ditahun 1953 dan 1954 masing-masing filmnya “Putri Solo dan “Sebatang kara”.
Telah mengalami sukses-sukses tersebut, tidak sedikit pula filmnya yang telah mencapai kegagalan, sedang 2 buah filmnya telah mengalami pukulan yang paling berat pula yaitu di ban, masing-masing “Surga terahir” dan “Halililntar”. Suatu produksinya yang perlu disebut dan merupakan experimen yang ternyata gagal ialah film-filmnya. Antara tangis dan air mata yang pemain-pemain seluruhnya terdiri dari bangsa Tionghoa.
Kompleks studio Bintang Surabaya luasnya kira-kira 50 x 75 m2 . Dalam kompleks tersebut, terletak kantor administrasi, sebuah studio, laboratoriom, beberapa rumah kecil untuk keperluan para pemain, kamar proyeksi, Luas studionya 15 x 20 meter.
Tetapi kameranya Andre de Bry yang beratnya 200kg. Adalah kamera yang terberat di Indonesia. Beberapa tahun alamanya Studio Bintang Surabaya bekerja dengan alat-alat yang sederhana, Tetapi sejak beberapa bulan telah datang alat modern. Diantara alat-alat yang baru didatangkan itu terdapat kamera Vinten (Single System) buatan Inggris. Untuk laboratorium otomatis lainnya.
Begitu juga telah didatangkan alat editing: mobiola, synchoniser, refinder dll Untuk penambahan distudio didatangkan juga 8 buah spotlight yang masing-masing kekuatannya xxx watt dan sebuah spotlight dari 5000 watt, spot 5 buah @ 150 watt ; yang 5 buah lagi masing-masing 500 watt, sedang 2 buah baby spot baru lainnya masing-masing mempunyai kekuatan 750 watt dan 2 buah T.L lamps. Juga sebuah tape recorder telah pula didatangkan.
Kamar proyeksi yang kita sebutkan diatas juga baru saja selesai, kira-kira bersamaan dengan tibanya alat-alat baru diatas. Kamar ini diperlengkapi dengan proyektor. Philips F.P 5 dan latar tembok. Kalau Bintang Surabaya tidak mempunyai pemain-pemain tetap, dia mempunyai sebuah band tetap, yaitu band “Don A.R. Garcia” Studio-crew semuanya 20 orang.
Tulisan mengenai Studio Bintang Surabaya ini diambil dari buku Berita Industri film yang ditulis oleh Mr. Arifin Harahap dengan penulisan yang sudah diubah sedikit. Tujuan penulisan ulang ini dimaksutkan untuk rekam jejak bawasannya Surabaya pernah punya Salah satu studio tertua di Indonesia dan untuk mengisi kolom Surabaya pada blog ini yang cukup lama tidak terisi. Semoga informasi ini bermanfaat ^.^v
Incoming search terms:
- bintang surabaja film
- alat film surabaya
- studio foto keren surabaya
- studio foto surabaya








