Sepak bola kita memang jarang menuai kemenangan. Bertumpuk harapan dari kita, bangsa Indonesia yang di dalam hati selalu menggebu dan penuh semangat ketika berbicara tentang sepak bola dan sepercik harapan sebuah kemenangan.

Berbicara sepak bola di negri ini akan selalu penuh semangat dan tiada habisnya untuk di perbincangkan. Kecintaan bangsa ini terhadap sepak bola tidak perlu di ragukan lagi. Bapakku, ibuku, adikku, tetanggaku, suporter yang meneriakkan yel-yel untuk menyemakati pemain kita ketika berlaga dan bahkan semua orang di negara ini cinta sepak bola. Tapi, bagiku suporter kita adalah suporter hipokritis. Mereka seolah-olah mendukung 11 pemain negara ini yang berlaga dilapangan dengan penuh cinta. Tapi, di lain sisi tingkah dan keonaran mereka selalu membuat nama negara kita dikenal sebagai negara dengan sepak bola kualitas kampung.

sebelas patriot

Novel sebelas patriot adalah buku terbaru Andrea hirata sang novelis yang kita kenal dengan novel terdahulunya tetralogi laskar pelangi. Tidak terlalu baru, hanya saja saya baru selesai membacanya. Terlepas dari segala hiruk pikuk sepak bola Indonesia dan dengan gaya penulisan yang khas penuh inspirasi, keharuan dan lelucon ringan. Buku yang banyak berbicara tentang sepak bola dan patriotisme ini setebal 105 halaman, sangat menarik untuk di ikuti. Menampilkan karakter lama seperti Trapani, Mahar dan sesosok Ayah pendiam dengan berjuta cerita hebat yang tak pernah habis. Selain itu penambahan karakter pelatih Toharun menambah buku ini semakin kaya cerita.

Judul 11 patriot menggambarkan cerita kesebelasan sepak bola. Tak hanya sepak bola dalam isi buku ini. Alur cerita tentang menggapai perjuangan mewujudkan sesuatu sangat kental di novel ini. Berlatar cerita di belitong dan cerita mengenai PN timah tetap menjadi cerita unik yang ingin kita dengar dari tulisan-tulisan Andrea.

Diawali dari cerita-cerita bagaimana Belanda yang ingin menguasai PN timah dengan serakah sehingga mengharuskan anak-anak muda yang dipaksa kerja rodi untuk menggantikan ayah-ayah mereka yang sudah tidak kuat bekerja. Mengenai bagaimana perlawanan rakyat Belitong melalui sepak bola. Awalnya, rakyat Belitong melawan paksa dan menolak perintah Belanda. Bagi siapa saja yang membangkang perintah Belanda akan segera dibawa ke tangsi. Tangsi adalah sebuah tempat untuk menyiksa rakyat yang membangkang di Belitong sana. Setiap orang yang keluar dari tempat itu, sekujur wajahnya sudah bisa di pastikan akan babak belur.

Perlawanan dengan cara itu sia-sia. Tapi, tidak bagi ke 3 orang kuli parit yang lihai bermain sepak bola. Trio bersaudara ini melawan dengan cara bermain sepak bola. Mereka masih berumur 13, 14, dan 15. Anak paling sulung menjadi playmaker di tengah, sedangkan anak kedua menjadi pemain sayap kanan. Yang paling spesial dan memiliki kemampuan dan kecepatan paling menonjol adalah anak bungsu yang menjadi pemain sayap kiri di team kuli parit. Selain kecepatan, tendangan kaki kirinya mirip kanon, sangat kencang.

Tapi sayang perjuangan 3 orang saudara itu terhenti ketika telah berhasil mengalahkan Belanda pada piala distric beheerder yang sedang diadakan pada waktu itu. ke3 saudara itu terpaksa di angkut ke tangsi untuk di beri hukuman karena telah mempermalukan Belanda di hadapan masyarakat Belitong.

Cerita yang tak kalah menarik juga di tuliskan Andrea ketika ber-backpacker di Eropa untuk sekadar mencari kaos Luis Figo yang di tandatangani langsung oleh pemain favorit ayah Andrea. Cerita ini bisa kita baca pada buku Edensor yang berkisah tentang Andrea dan Arai yang sedang melakukan pendidikan di Sorbonne University.

Kisah dan kecintaan Andrea terhadap PSSI adalah contoh harapan-harapan rakyat Indonesia yang masih berharap agar Indonesia mempunyai team sepak bola kebanggaan seluruh negri ini.

Klik untuk berlangganan melalui Email

Incoming search terms:
  • www sibair net
  • SEBELAS PATRIOT
  • novel sebelas patriot
  • buku terbaru
  • novel 11 patriot