Beberapa hari yang lalu saya sempat jalan dibeberapa tempat di Surabaya. Sekadar melihat-lihat taman yang semakin banyak. Berbahagia sekali saya dan mungkin warga Surabaya dengan banyaknya taman yang nyaman dan memperindah jalanan kota. Waktu itu saya juga sempat mencoba mampir ke Pasar pucang dan Pasar keputran.

Taman keputran

Taman keputran ~ dijempret sekenanya

Menghabiskan waktu senggang dengan berjalan-jalan bisa menghilangkan stress. Yah, walau cuma mondar-mandir kesana kemari bukan berarti tidak ada pekerjaan yang bisa kita lakukan. Melihat perkembangan kota saya rasa perlu, itu juga bisa disebut pekerjaan. Beberapa bangunan tua atau yang mangkrak masih banyak terdapat di kota-kota besar seperti Surabaya.

Setelah lelah mondar-mandir, saya istirahat di Pasar Keputran. Memarkir motor dan melihat-lihat taman Keputran yang baru saja dibangun oleh pemerintah kota. Taman yang dibangun dipinggiran Pasar ini desainnya cukup unik. Yang menjadi perhatian saya waktu itu adalah jalur pejalan kaki.

Awalnya saat Bambang D.H menjabat menjadi walikota Pasar Keputran bisa ia tertibkan. Sehingga pedagang liar tidak berjualan di jalur pedestrian dan jalanan yang bisa mengganggu fungsi jalan dan membuat macet. Saat ini taman Keputran menjadi tampak sedikit kumuh dengan adanya pedagang-pedagang liar yang memenuhi jalan.

Bukan karena pemkot tak berdaya untuk menertipkan pedagang-pedagang liar yang berjualan di pinggir-pinggir jalan. Sebenarnya satpol PP juga sudah berusaha membersihkan pedagang liar tersebut. Saat siang sudah banyak satpol PP yang berjaga disana agar tidak ada pedagang yang berjualan di jalur pedestrian. Tapi ketika pukul 19.00-05.00 mereka membiarkan pedangang menggelar dagangannya. Itu juga menurut arahan walikota yang sekarang.

Pedagang liar yang berada di Pasar Keputran sebenarnya juga sudah direlokasi ke Pasar Induk Osto Wilangun (PIOS). Setelah itu, di kawasan Keputran dibangun jalur pedestrian senilai 2,5 miliar dan taman yang waktu itu saya datangi dengan menghabiskan anggaran 750 juta. Data tersebut sempat saya baca dari salah satu koran lokal.

Menariknya para pedangan liar ini semakin banyak. Mereka membayar 20 ribu per malam kepada “Penguasa” Keputran. Yang mereka dapat adalah fasilitas lampu dan listrik. Disatu sisi para pedagang berterima kasih kepada wali kota yang sekarang ibu Tri Rismaharini karna diperbolehkan berdangang di trotoar saat malam. Data ini juga saya baca dari koran lokal Surabaya.

Ah, saya jadi merasa dilema saja ketika di satu sisi saya berharap bisa melihat taman kota yang bersih serta fungsi jalan yang selayaknya tanpa kemacetan yang disebabkan pedangan liar. Sisi lain banyak orang yang berterimakasih terhadap kemuliaan walikota yang memperbolehkan mereka berjualan saat malam. Saya tidak kecewa terhadap bu Risma. Saya yakin beliau punya kebijakan terhadap mereka. Saya tetap bangga terhadap beliau yang sudah memperbanyak taman-taman kota.

Harapan saya semua pedagang dan warga bisa saling mendapatkan apa yang terbaik bagi mereka. Mungkin bisa saja ibu walikota mau bernegosiasi kepada pedagang liar untuk dipindahkan ke tempat yang layak agar tetap bisa berjualan. Tentunya dengan tempat yang strategis untuk berjualan. Bukan ditempatkan di pinggiran sehingga mereka mengeluh masalah omset.

Setidaknya fungsi jalan dan jalur pedestrian bisa kembali lagi. Memang kadang di jalur pedestrian tidak hanya digunakan untuk berjualan. Tempat parkir motor kadang tiba-tiba hadir dijalur-jalur pejalan kaki. Mengganggu? Tentu saja. Membuat macet? Bisa saja.

Selamat hari Minggu, semoga anda tidak terjebak macet oleh pedangan-pedagang liar.

Incoming search terms:
  • fungsi jalan
  • perubahan fungsi pedestrian
  • jalan pedestrian
  • perubahan fungsi jalan
  • perubahan fungsi dari wisma menjadi suka