Siang ini saya berbincang dengan teman saya mengenai jalan-jalan kota Surabaya dan Sidoarjo yang sempat macet karena iring-iringan puluhan truk warga Lapindo yang menuntut hak mereka. Ada yang berteriak begini “Warga sanggup nggowo pacul lan linggis. Ayo dijebol sisi kulon ben dalan provinsi macet. Sing rugi bukan sampeyan tok, pemerintah ben ngerasakno sisan.”
Dalam orasinya, massa menilai bahwa warga korban lumpur sudah sengsara akibat semburan lumpur Lapindo. Bahkan massa sempat mengancam jika tuntutannya tidak dipenuhi akan melakukan aksi unjuk rasa selama 2 minggu sekali. Mereka merasa kesal karena selama 6 tahun masalah ini tidak selesai. Seorang wakil ketua Pagare kontrak dari desa Reno Kenongo mengatakan bahwa gubernur dan wakilnya justru mementingkan memilih peletakan batu pertama sebuah bangunan daripada dibanding korban lumpur.
Lalu teman saya bertanya.
“Lah, meletakkan batu memang mudah ketimbang ngurusin ribuan orang yang kena bencana, ya toh?”
Saya menjawab sambil mengguyah kerupuk dengan santai
“Lah kalo njenengan meletakkan batu peresmian bencana di lapindo ya ujung-ujungnya njenengan berhadapan sama ribuan orang itu kang.”
Kemudian hening…







