Perkenalkan nama saya Edi… Editor.. saya tinggal di hati setiap orang yang ingin menulis. Saya adalah pengkritik bagi orang-orang yang ragu akan membuat sebuah karya tulis.

Itulah mas Edi, Perkenalan singkatnya cukup membuat kita bingung, kenapa dia tinggal di hati setiap orang?

Setiap orang punya dua sifat di dalam diri. Sifat 1 adalah sifat yang menuntut kesempurnaan atau sebut saja sang pengkritik. Sifat 2 adalah sifat yang ingin bebas melakukan segala sesuatu tanpa ada batasan, larangan yang berlaku.

Di dalam menulis sifat 1 lebih dominan dalam menguasai sebuah emosi penulis. Ketika menulis, apakah anda memperhatikan suara kecil dalam benak anda yang sedang menilai karya anda? Itulah suara yang memberitahukan tulisan anda bagus atau jelek. Anda mungkin sudah begitu terbiasa dengan teman tak terlihat yang bermaksut baik itu sampai-sampai tidak tahu bahwa ia ada di dalam kepala anda. Tapi, ia ada disana. Percayalah.

Edi sang editor ini yang di sebut pribadi 1 dalam permainan pikiran itulah yang menghalagi anda untuk menulis dengan mudah, lancer, dan orsinal.

Beberapa hari yang lalu saya merasakan kemalasan untuk mengupdate blog ini. Terhitung sudah hampir 5 hari lebih blog ini jarang di update. Atau bahkan 1 bulan juli lalu hanya update 4 postingan. Sungguh produktifitas saya untuk mengisi blog ini turun drastis. Bulan ini memang saya sedang ada Ujian akhir semester dan kegiatan-kegiatan lain yang menyibukkan. Tapi, bukan berarti saya tidak update atau malas mengupdate blog kan?

Saya mohon maaf jika rentan jarak update blog saya terlalu jauh karena kemalasan saya untuk mengupdate blog ini. Entah mengapa setelah malas mengupdate blog ini, rasanya saya jadi takut untuk menulis walau sekedar membagikan cerita. Mungkin memang pribadi 1 sang Editor ini lebih dominion. Sehingga membuat saya malas dan takut untuk membuat sebuat tulisan.

Kembali berbicara tentang Edi sang editor ini. Jika mendapati sebagian diri anda mengatakan, “Kamu bukan penulis yang bagus” atau “Perhatikan ejannmu!”, berarti anda mendengar pribadi satu.

Tanpa kita sadari system pendidikan kita memang menanamkan sang editor ini ketika kita masih kecil di kelas bahasa, tanda baca, logika, struktur kalimat, dan sebagainya. Kita di buat begitu berhati-hati terhadap kesalahan sampai kita menjadi paranoid. Menjadikan Edi sang editor teman kepercayaan dan berhasil mengendalikan kita setiap kali ingin mengetik sebuat tulisan.

Mungkin anda berfikir sang editor ini adalah teman yang baik dan membantu anda, sebetulnya sang editor ini adalah orang yang menghalangi untuk menulis dengan hasil yang luar biasa.

Maka saran saya jangan berfikir untuk memikirkan ejaan atau struktur kalimat terlebih dahulu. Cukup pikirkan apa yang ingin anda sampaikan lalu tulislah dengan tanpa berfikir akan salah ketik atau salah ejaan. Tulis terus dengan cepat sehingga semua unek-unek yang ingin anda sampaikan keluar. Baru setelah itu benahi dengan memberikan tambahan-tambahan kalimat yang membuat tulisan anda menarik.

Selamat menunaikan ibadah puasa.