Judul yang terlalu tinggi dan menghebohkan, ya? Kata-kata Carut marut sistem pendidikan Indonesia terdengar seperti kehancuran bagi negara Indonesia, karena sistem pendidikan adalah fundamental terbentuknya sebuah bangsa. Berawal dari sebuah broadcast message dari salah satu teman yang akan menjadi salah satu pembicara dalam sebuah acara. Menggangkat sebuah tema yang berjudul carut marut sistem pendidikan Indonesia. Bincang Edukasi dihadiri oleh orang-orang yang merasa gusar terhadap perkembangan pendidikan di negara ini.

Pembahasan yang di angkat antara lain, mulai dari masalah perlu tidaknya pengadaan Ujian Nasional, industrialisasi dalam sekolah, hingga komersialisasi pendidikan. Kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh Departemen Pendidikan Nasional pun dirasa hanya memenuhi sebagian kalangan saja, padahal pendidikan adalah untuk semua anak bangsa.

Diperlukan kesadaran masyarakat Indonesia, khususnya bagaimana pentingnya peran para orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Diperlukan keterbukaan pikiran dan informasi mengenai alternatif-alternatif pendidikan untuk diketahui dan diperbincangkan oleh semua pihak yang peduli akan pendidikan Indonesia.

Sehingga ke depannya masyarakat Indonesia dapat memilih pendidikan terbaik untuk generasi selanjutnya. Menjadi peran Bincang Edukasi untuk mewadahi dan memfasilitasi semangat berbagi ide-ide dan alternatif pendidikan Indonesia, karena pendidikan adalah kehidupan. Maka segera Bincang Edukasi mengambil langkah ini.

Pembicara dalam acara ini adalah orang-orang kreatif yang mendidik dengan cara-cara yang menarik seperti : Bukik ( Indonesia bercerita), Inanda Tiaka (Child Can Lead), Ditto chrisdianto (Rumah orkestra), Nila Mardiana (Pusdakota).

Acara yang peduli terhadap pendidikan ini bisa di lihat melalui update beritanya di twitter @bincangedukasi.

Hayo saya sebelah mana?

Fundamental pendidikan memang sangat vital jika tidak di beri pendidikan sejak kita kecil. Alhasil pergeseran zaman yang membawa kita ke zaman ultramodern yang di tandai dengan kemajuan superpesat di bidang teknologi komunikasi dan informasi saat ini, agaknya ada sesuatu yang hilang dalam diri manusia, baik sebagai pribadi, anggota keluarga, warga masyarakat, maupun warga negara. Walaupun yang hilang itu bukan sesuatu yang kasat mata, gejala atau fenomena skhir-akhir ini terus menguat. “Rasa MALU” harta pusaka yang seolah lenyap di telan pergeseran zaman.

Rasa malu yang akhir-akhir ini kurang dirawat dan dipelihara oleh para pemiliknya sendiri sehingga banyak yang tercecer, terbuang, dan ahirnya sirna diterpa angin peradabanyang terus-menerus berhembus.

Seiring dengan hilangnya rasa malu tersebut,  seakan rasa malu telah tercabut dari kalbu-kalbu mereka. Implikasinya, banyak orang sudak tidak malu-malu melakukan hal yang sejatinya tabu menjadi kegiatan yang di anggap wajar. Gadis-gadis tidak malu menggunakan pakaian kurang bahan yang mengumbar aurat, pemuda-pemudi yang tidak malu bercumbu mesra di depan umum, bahkan di sekitar tempat ibadah. Seperti yang ada di dekat daerah rumah saya. Suami istri tidak malu selingkuh dengan WIL atau PIL mereka. Mahasiswa dan pelajar yang sudah kerap kali berhubungan seksual dengan pacar mereka dan tidak jarang diabadikan menjadi video yang tersebar luas di dunia maya.

Bahkan hati para perwakilan rakyat yang tidak malu mempertahankan kepemimpinan mereka mesti telah banyak berbuat salah. para dewan tingkat daerah, kota, provinsi sampe pusat yang tidak malu bancakan uang negara. Pembuatan gedung baru yang jelas di tentang rakyat tapi terus di perjuangkan oleh orang-orang yang katanya “Perwakilan rakyat”. Rasanya, lengkap sudah kini orang-orang yang kehilangan rasa malu dalam berbuat maksiat, mungkar, keji. miris

Jumlah mereka yang terus-menerus bertambah. Mereka yang bukan terdiri dari orang-orang awam, tetapi juga meliputi orang terpelajar, mahasiswa, artis, dosen, guru, wakilrakyat,  bahkan tokoh agama juga bisa menjadi salah satu evangelist sesat. Seperti rasa malu tidak lagi bersemayam di kalbu mereka.

Berbuat posfitif malu, bertindak negatif sama sekali tidak malu. Yang benar disalahkan, yang salah dibenarkan. Yang baik dipandang jelek, yang jelek di pandang baik. Yang haram di halalkan, yang halal di haramkan, yang benar dipenjara, yang salah tertawa. Yang jorok-porno di anggap modern, yang anggun rapi dianggap ketinggalan zaman. Ujung-ujungnya, jalan ke neraka pun dikira akses ke surga, sementara jaluk ke surga di anggap lintasan menuju neraka. Naudzubillahi min dzalik.

Pemahaman yang kurang membuat kita lupa. Pengenalan pemahaman seperti 1×3 =3, 3×1=3. Walaupun hasil ahkir yang sama tetapi mempunyai arti yang berbedapun kadang kita acuh.

Kadang pertanyaan yang ringan saja orang atau teman dekat kita tidak tahu. Saya punya 1 pertanyaan yang mudah tapi kebanyakan orang menganggap remeh dan ahirnya mengeluarkan jawaban yang salah.

Jika saya mempunyai uang 1500. Saya belikan bakso seharga 750. Lalu, berapa duit kembalian yang harusnya saya terima? Selamat menjawab dan jangan acuh dengan segala hal-hal ringan. Agar anda tidak mudah menjadi sasaran orang sesat yang ujung-ujungnya akan mencuci otak anda. Adios

Incoming search terms:
  • carut marut pendidikan di indonesia
  • carut marut sistem pendidikan indonesia
  • carut marut pendidikan indonesia
  • sistem pendidikan indonesia
  • carut marut pendidikan