Kebiasan atau kebiasan? Kadang dalam rutinitas sehari-hari kita terlampau sibuk dalam beraktifitas. Sehingga lupa untuk meluangkan waktu untuk bersantai dan mengurusi hal remeh temeh dalam keluarga. Rutinitas yang menumpuk membuat kita kelelahan dalam berbagai hal. Kadang menyempatkan makan saja, malas. *kecuali yang doyang makan, pasti tetap lahap*

Padahal, mengatur jam kerja dan mengerjakan hal lain selain pekerjaan yang kita kerjakan sehari-hari itu perlu. Perlunya agar kita tidak bosan. Ketika bosan, yang terjadi adalah kemalasan. Malas untuk menanggapi sesuatu, malas untuk perduli kepada hal sekitar, atau kemalasan yang lain.

Kalau terlanjur malas malah berbagai kegiatan bisa terbengkalai, tak tersentuh. Mengenai mempertahankan pikiran positif juga dalam posting sebelumnya juga pernah saya utarakan. Boleh di simak.

Menghilangkan bosan tentu ada banyak jalan keluar, seperti berjalan-jalan, makan banyak, berbagi dengan orang lain, atau beberpa orang suka melakukan hal lain jika mereka bosan, mereka melampiaskannya dengan menulis. Kita menulis karena kita mencintai kata-kata: bagaimana ia terdengar, bagaimana ia menggetarkan pita suara kita, bagaimana ia membentuk kalimat dan memberikan makna terhadap keberadaan kita. Kata-kata adalah bayi yang kita lahirkan.

Bapakku masih membaca kamus setiap hari. Ia bilang bahwa hidup kita tergantung pada kepiawaian kita menggunakan kata. ~ Arthur Scargill, pemimpin buruh Inggris

Bagi beberapa orang, menulis itu menyenangkan. Dunia dimana kita bisa menciptakan apa yang sebelumnya tidak ada. Dengan menulis, bersenang-senang dengan diri kita sendiri. Syukur-syukur jika orang lain membaca juga dapat manfaat.

Saya pernah membaca mengenai menulis, kurang lebih seperti ini : Ketika menulis, Anda melibatkan seluruh tahapan berpikir, mulai mengingat, mulai memahami informasi, menerapkan pengetahuan yang dikuasai, menganalisis, melakukan sintesis, hingga mengevaluasi.

Dalam urutan di atas, menggali ingatan merupakan tingkat paling dasar; mengevaluasi merupakan tingkat tertinggi. Semua tahap ini saling berkaitan. Karena itu, anda tidak pernah menggunakan hanya satu level berfikir, kecuali jika Anda hanya diminta untuk mengingat-ingat sesuatu atau susunan informasi. Namun, jika diminta mengevaluasi sesuatu, Anda pasti menggunakan semua tahapan berfikir.

Atau pemulihan suasana hati dengan menonton video, pernah liat tvc iklan yang beraktifitas tapi jalannya miring-miring kan? Tagline mereka cukup keren dapat memberikan pemulihan untuk tubuh, pikiran dan suasana hati di setiap saat.”  Tau dong pasti tentang tvc ini. Saya selalu senang melihat tvc/iklan-iklan mereka yang selalu kreatif.

Tetapi, ya tetapi, untuk yang video yang satu ini sayang menurut saya. Video tentang kolam http://goo.gl/Ycoa7  “KO di kolam bisa runyam konsekuensinya. Malu ? Pasti !” Penasaran? Coba anda lihat terlebih dahulu. Ada hal menarik apa yang bisa anda dapat? Nanti ceritakan ke saya melalui kolom komentar.

Video tvc ke 2 bertema “Semangat OK Lagi“  http://goo.gl/NPLTP yang sudah sering muncul di televisi ini memang fun dan menggambarkan kalau minuman Mizone ini cocok untuk pemulihan pikiran dan suasana hati.

* Sesuai nama kategori, tulisan ini berada dalam kolom  Advertorial. Artinya merupakan tulisan titipan atau pesanan. Meskipun begitu keseluruhan isi adalah tanggung jawab penulis.

Incoming search terms:
  • cara melampiaskan kemalasan
  • level energi pikiran dan hati