Beberapa hari yang lalu (16/4/11) saya mengikuti acara Akademi berbagi yang pertama kali diadakan di Surabaya. Berawal dari ajakan salah satu teman saya yang menjadi koordinator #Akbersby Singkatan dari akademi berbagi Surabaya acara yang diadakan di Hall radio Suara Surabaya ini di ikuti dari berbagai kalangan. Untuk tema akber yang pertama ini bertema The magnivicient of story teller oleh Iwan setyawan seorang story teller, penulis buku 9 Summers 10 Autumns, yang dulunya berkarier di New York selama 10 tahun dan baru kembali ke kota asalnya, Batu, Malang.

Sehari sebelumnya saya memang belum tau buku 9 Summers 10 autumns. Padahal, beberapa portal berita dan blog seperti punya pak Budi raharjo sempat mereview buku keren buatan Iwan setyawan ini. Di halaman pertama Iwan mengambil sebuah quote dari dosteovky. dan memberi penekaan bawasaanya pendidikan sejak dini sangat penting untuk kaum muda.

You must know that there’s nothing higher, or stronger, or sounder, or more useful afterwards in life, than some good memory, especially a memory from childhood, from the parental home. You hear a lot said about your education, yet some such beatiful, sacred memory, preserved from childhood, is perhaps the best education. If a man stores up many such memory to take into life,then he is saved for this whole life. And even if only one good memory remains to take into life, then he is saved for his whole life. and even if only one good memory remains with us in our hearts, that alone may serve some day for our salvation.

Dosteovky’s
The brothers Karamazov

Tag line buku 9 summers 10 autumns ini sangat menarik “Dari kota apel ke the big apel”. Buku dengan cover 2 buah aple bersiluet pegunungan yang bagaiakan kota malang dan patung liberty yang menggambarkan kota New York. Bercerita tentang kehidupan masa kecil Iwan hingga Iwan dewasa ini menuliskan kisah seorang anak supir angkot dari kota batu yang menjadi direktur di New York City. Sebuah otobiografi yang penuh kejujuran di kemas dengan bahasa sederhana tapi bisa membuat kita menelan ludah karena benar-benar bisa menyampaikan pesan kehidupan yang baik.

Memang buku ini tidak seperti buku-buku yang sukses seperti karya Andrea Hirata yang selalu memberi semangat menggebu untuk mendapakan segala sesuatu. Tapi, buku ini hanya menulis bagaimana kisah Iwan semasa kecil yang merasakan getirnya hidup di keluarga sederhanan dengan 3 orang adik-adiknya dan bapak ibu yang luar biasa.Tapi, pada saat talk show akademi berbagi banyak kata-kata Iwan yang memberi  semangat bagi peserta yang mengikuti talk show hari itu. Seperti “Don’t be average, average is boring.” Sayangnya itu benar rata-rata orang Indonesia memang menginginkan untuk jadi rata-rata. Hidup seadanya dan tidak berani mimpi setinggi-tigginya.

Iwan selalu berkata hiduplah dengan Intelektual karena intelektual bisa membuat kita yang awalnya minder karena tidak tau dengan berbagai hal bisa menjadi orang yang percaya diri untuk menghadapi hidup. Ilmu! Ilmu yang terpenting baginya. Dia juga berharap kaum-kaum muda Indonesia agar mencintai kebiasaan membaca dan menulis. Karena dari membaca, kita bagaikan mengintip dunia. Layaknya bung Hatta yang terpenjara dan diasingkan beliau berkata “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas” ~ Hatta.

Buku ini rekomended banget untuk dibaca. Tulisan santai penuh makna. Awal yang bagus sebagai pembukaan Akademi berbagi pertama yang mendatangkan seorang penulis buku yang luar biasa.

Incoming search terms:
  • akademi berbagi surabaya
  • kebiasaan orang surabaya